PELATIHAN PEMBUATAN TELUR ASIN PADA MASYARAKAT DI DESA TRANSMIGRAN KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BERSAMA MAHASISWA PASCASARJANA UNY

     Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menerjunkan mahasiswa Pascasarjana jurusan Pendidikan Luar Sekolah langsung ke lapangan untuk melaksanakan praktek kepada masyarakat. Praktek yang dilakukan merupakan bagian dari mata kuliah “Praktik Pembelajaran Kreatif dan Inovatif” yang di ampu oleh dosen Dr. Puji Yanti Fauziah, S.Pd., M.Pd. Mahasiswa pasca sarjana dihimbau untuk melakukan praktek sesuai dengan program study yang ditempuh baik perorangan maupun dengan kelompok.

      Salah satu mahasiswa yang sedang melaksanakan praktik individu adalah Dwi Rachmawati. Dwi Rachmawati memilih untuk melakukan pelatihan pengelolaan telur asin di daerah Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di desa Transmigran. Sebelum melakukan pelatihan pembuatan telur asin, telah dilakukan observasi yang mana bertujuan untuk mengetahui masalah apa yang sedang terjadi di masyarakat dan kegiatan apa yang bisa memberi manfaat pada masyarakat transmigran. Pada desa transmigran yang terletak di bagian selatan Bangka Belitung, terdapat dusun yang mana masyarakatnya bekerja sebagai petani dan peternak bebek. Namun, selama ini masyarakat hanya menjual telur bebek dalam keadaan mentah. Sehingga, harga beli yang ditawarkan para tengkulak sangat rendah, yaitu 1.500 perbutir. Padahal telur bebek tersebut akan diolah menjadi telur asin dan akan dijual dengan harga 5.000 perbutir.

     Kegagalan dalam membuat telur asin membuat masyarakat transmigran menjadi takut un tuk kembali mencoba membuat telur asin. Lantaran, kegagalan tersebut membuat telur asin yang mereka hasilkan tidak laku karena hasilnya yang belum sempurna sehingga tengkulak pasar menolak untuk membeli. Sejak saat itu, masyarakat lebih memilih menjual mentah telur bebek walau harga jual yang ditawarkan sangat rendah.

    Melihat keadaan tersebut, Dwi Rachmawati berupaya untuk membantu masyarakat transmigran dengan melakukan pendampingan terhadap masyarakat transmigran. Kegiatan selama pendampingan adalah  melakukan pelatihan pembuatan telur asin. “Pelatihan pembuatan telur asin ini bertujuan untuk memberi pengalaman belajar bagi masyarakat transmigran dalam pembuatan telur asin, sehingga diharapkan masyarakat mampu memproduksi telur asin agar mendapat harga jual yang lebih tinggi dari pada sebelumnya,” ucap Dwi Rachmawati.

     Pelatihan pembuatan telur asin mendapat respon yang baik dari masyarakat transmigran. Terbukti dengan antusias masyarakat dalam menghadiri pelatihan pembuatan telur asin. 80% dari masyarakat yang menghadiri pelatihan pembuatan telur asin merupakan peternnak bebek. "Bersyukur sekali ada mahasiswa yang perduli dan mengadakan acara belajar dalam membuat telur asin. Terima kasih untuk kampus UNY dan mbak Dwi sudah mendatangkan pelatih telur asin,” ujar Mimih salah satu masyarakat yang mengikuti pelatihan.

      Wawasan dan ilmu baru setelah pelatihan, benar-benar di rasakan oleh masyarakat transmigran. Bahkan, hingga saat ini mereka terus membuat telur asin dan melakukan pemasaran melalui kerja sama dengan toko-toko sembako dan kedai makanan di dusun tersebut. “Alhamdulillah, setelah disarankan mbak Dwi untuk menitipkan telur ditoko dan kedai, sekarang masyarakat sekitar mulai mengenal telur asin kami,” ujar teh Ayeng salah satu peserta pelatihan.

       Diharapkan kedepannya hasil pelatihan telur asin dapat bermanfaat dan membekali masyarakat transmigran dalam membuat telur asin. Selain itu, kerja sama anatara masyarakat dan pemilik toko, kedai ataupun UMKM diharapkan dapat terus terjalin sehingga produksi telur asin bisa terus berjalan selamanya.